BBN News – Salah satu keistimewaan Islam yang tidak dimiliki agama manapun di dunia ini adalah ditanamkannya profesionalitas dalam setiap aktifitas muslim. Islam tidak hanya memberi semangat bagi umatnya agar memiliki etos kerja yang tinggi tetapi mewajibkan sikap profesional dalam kerja itu.
Profesionalisme yang dalam bahasa haditsnya disebut “Al-Itqon” adalah termasuk sikap penguasaan yang mendalam dengan didasari pengetahuan teraplikasi dalam amal nyata.
Sehingga tidak berlehihan jika itqan adalah ceminan iman seseorang. Konsekuensinya, orang yang amal/kerjanya sembarangan dan tampak amburadul pertanda imannya perlu dipertanyakan, atau dimana imanya?
Alangkah indahnya kehidupan ini, bila konsep itqan ini dipahami oleh setiap muslim. Sehingga tidak perlu terjadi dalam produk-produk barang, tertulis “AWAS BARANG TIRUAN”, “AWAS BARANG CAMPURAN”, dsb. Para manajer tidak merasa was-was kalau waktu kerja dikorupsi.
Begitu pula para karyawan/pegawai akan disiplin melakukan pekerjaannya, sebab mereka tahu konsep itqon. Tidak akan terdengar nilai jeblok bagi kalangan pelajar dan akademis, jika itqon ini diamalkan sebab dia akan semakin giat belajar dan belajar terus. Klop sudah nilai-nilai Islam ini dan mengandung ajaran serta hikmah yang besar.
Sejak masa sahabat masalah kualitas dan profesionalisme senantiasa mewarnai setiap pekerjaan mereka dan ini sudah menjadi ciri khas mereka. Tidak mungkin rasanya mereka berhasil menundukkan adidaya-Romawi dan Persia, kalau bukan kualitas salaf itu melebihi kehebatan orang Romawi dan Persia.
Dan itulah yang tergambar dari mulut kaisar Romawi tentang watak kaum muslimin: “Ruhbanun bil laili Firsaanun bin Nahar” (malam seperti Rahib, siang bagaikan kuda perang). Jadi sejak awal seorang muslim memang sudah di tempa kearah disiplin, jauh sebelum Gerakan Disiplin Nasional dicanangkan. Dari menyembelih binatang sampai pada memimpin umat sekalipun.
Itqon (profesionalisme) dapat dilakukan oleh siapa saja baik muslim maupun non muslim, tapi itqon-nya seorang muslim punya nilai lebih. Bagi orang non muslim, motivasi itqon tidak lebih dari mengharapkan imbalan duniawi, misalnya popularitas, pujian, hadiah karier dan jabatan.
Dalam arti lain kualitas dan profesionalisme tidak diperhatikan bila imbalan tidak ada. Berbeda itqonnya umat Islam, ada atau tidaknya imbalan, memang itqon itu sudah menjadi darah dagingnya. Karena sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala sesuatu.
Sayangnya kita saat ini kehilangan sifat yang mahal ini. Bahkan kerja yang amburadul, tradisional, sembarangan terbalik menjadi khas tradisi muslim kini. Sungguh aneh bin ajaib, padahal kalau itqon sudah menjadi asas kerja setiap muslim, tidak akan terjadi ketimpangan kerja, penurunan kualitas kerja dan semangat kerja, yang pada akhirnya merusak tatanan kerja itu sendiri.
Kalau toh ada sebagian yang akan menerapkan profesionalisme ini, banyak kendala yang menghadang akhirnya pupus ditengah jalan dan memang itulah tantangan yang harus diperjuangkan.
Sementara yang banyak difahami umat Islam dewasa ini bahwa profesionalisme hanya menyangkut urusan dunia saja, seakan tak ada hunbungan dengan masalah akhirat.
Manfaat suatu amal yang dilakukan dengan itqon, disamping memeberikan kepuasan pada sesama, lebih dari itu manfaat itu akan kembali kepada diri kita sendiri, sebab orang akan percaya pada kuakitas kerja kita dan yakin dengan profesionalisme kita. Yang demikian itulah merupakan cerminan kekuatan iman dalam diri seseorang.
Dalam urusan ibadah kepada Allah itqon ini mendapat perhatian yang ekstra serius. Khusyu’ dalam sholat merupakan tanda profesionalisme ibadah, puasa yang melahirkan sikap tawadhu’, haji yang dikerjakan dengan baik dan jihad yang membuahkan kemenangan gemilang merupakan tanda-tanda itqonnya ibadah.
Dan kita berharap, baik amal jasmani maupu rohani dapat dikerjakan dengan seprofesional mungkin yang pada gilirannya dapat menegakkan bangunan Islam itu sendiri. Semoga kemenangan ada ditangan Islam. Wallahu A’lam Bish-Showab.




















