“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 107).
BERBAGI News – MAULANA Wahidudd Khan seorang ulama yang karyanya berjudul Islam and Peace (Islam Anti Kekerasan) diterjemahkan oleh Samson Rahman yang menyorot tudingan-tudingan miring bahwa Islam itu identik dengan kekerasan. Untuk mengetahui lebih jelas, Wahiduddin memaparkan buah pikirannya diantaranya sbb:
“ISLAM dan kekerasan ibarat dua kutub yang saling bertolak belakang. Dari lafaznya saja Islam berarti damai. Rasulullah Saw dalam sepanjang sirahnya telah mengamalkan pesan perdamaian dan kerukunan terhadap seluruh agama dan etnis yang ada.
Sepanjang perjalanan dakwah, beliau tidak pernah menggunakan cara kekerasan untuk memperoleh tujuannya, baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang. Peperangan hanya digunakan untuk membela diri, itupun sedapat mungkin dihindarinya. Cara-cara damai dan sikap anti kekerasanlah yang menghantarkan Islam menuju puncak kejayaannya.”
Philip K. Hitty, seorang sejarawan mengatakan, “Agama Islam telah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya tatkala kekuatan senjata mereka (umat Islam) gagal menaklukkannya. Bangsa Mongol yang bengis justru ditaklukkan Muslimin ketika pedang kaum Muslimin sudah tidak sanggup menghadapinya.”
Islam, sesuai dengan akar katanya berarti damai, salam. Dan Rasul yang membawa ajaran Islam itu diutus pada umat manusia dengan misi rahmat buat semesta alam. Dalam Islam terkandung berbagai kelembutan dan nuansa kemanusiaan yang menyejukkan.
Salah datu faktor yang menyebabkan Islam berkembang di dunia adalah, karena dalam rahimnya terkandung mutiara-mutiara akhklak yang sangat jernih, yang sesuai dengan fitrah manusia.
Islam yang sangat damai, dan Islam yang sejuk merupakan misi yang Rasulullah Saw emban, demi terciptanya keadilan di muka bumi. Agar tidak ada eksploitasi manusia atas manusia lain.
Bahkan atas nama apa saja; atas nama agama, politik ataupun ideologi tertentu. Agar manusia kembali pada kesaksian awalnya, yaitu bahwa tiada Ilah yang patut untuk disembah selain Allah.
Selain itu ia mengatakan, “Islam mengajarkan dan selalu menawarkan-keharuman akhlak, dan bukan menaburkan onak di lorong-lorong lebar kemanusiaan. Dalam rahim Islam, ‘janin-janin’ rahmat itu siap lahir, yaitu untuk memberikan kesejukan bagi semesta alam. Islam yang damai adalah misi Rasulullah. Islam yang damai dan mendamaikan adalah dambaan kita semua.”
Islam yang sejuk di zaman modern ini seakan tertutup oleh awan kelabu. Awan kelabu yang disebarkan oleh kaum Muslimin sendiri, yang selalu mengedepankan radikalisme sebagai sebagai satu-satunya solusi dalam memecahkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Tindakan radikal dan kekerasan telah membuahkan hasil yang tidak sedap bagi citra Islam yang damai.
Hendaknya keberadaan oraganisasi Islam yang bergerak dibidang dakwah, perlu bergerak mengarahkan umat ini kembali ke muara Islam yang benar. Muara Islam yang memberikan kenikmatan ruhani dan kesejukan jiwa. Bukan saja kepada para pemeluknya, namun juga bagi orang lain di luar pemeluk Islam.
Wahiduddin dalam pandanganya, “Islam yang damai seharusnya bisa ditampilkan sesuai dengan format dijarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, Islam harus ditampilkan dalam nuansa yang memberikan ‘hidup’ pada orang lain, dan bukan ‘kematian’ Islam harus menjadi pelopor ‘anti kekerasan’ dan bukan pelopor bagi terciptanya radikalisme serta brutalisme.”
Lebih lanjut Wahiduddin mengungkapkan, “Sprit yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah mengandung nilai- nilai kedamaian. Dan untuk menguatkan bagaimana Islam itu memberikan ruang luas bagi usaha-usaha damai antar umat manusia.”
Wahiduddin juga menyitir beberapa ayat dan hadits serta peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah. Dari dalil-dalil Qur ‘an dan sabda Rasul kita diajak berkeliling di taman keindahan Islam yang damai. Sebuah taman bunga yang menjanjikan toleransi antar sesama, sebuah sikap terbuka terhadap orang lain dan menghormati atas keyakinan yang mereka peluk.
Disamping itu ia berpendapat, “Baik Al Qur’an ataupun As Sunnah selalu menekankan, bahwa jalan damai adalah jalan utama sebelum kita betul-betul berada pada posisi disudutkan, dan kebebasan beragama masih diberi ruang untuk bergerak. Selagi pintu perdamaian bisa dilakukan, maka pilihan untuk berdamai hendaknya dijadikan sebagai sarana utama bagi berlangsungnya hubungan dan interaksi umat manusia.
Nuansa dakwah dengan hikmah, penuh kasih dan cinta, sabar dan tabah, sebab dengan sebuah keyakinanm bahwa dengan cara seperti itu umat Islam akan mampu untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Sehingga orang-orang di luar Islam dapat memahami, bahwa Islam adalah agama yang menagandung nilai- nilai sejuk kemanusiaan.”
Wahiduddin menambahkan bahwa,” tanpa ini, Islam akan terus disalah mengertikan dan akan selalu digambarkan sebagai agama yang bengis serta suka kepada kekerasan. Sebuah gambaran yang bertolak belakang dengan kebenaran Islam.
Sangat yakin, bahwa kandungan kebenaran internal yag hak datang dari Allah, Islam akan kembali mampu menjadi ‘Imam peradaban’. Yaitu, pada saat manusia telah menyadari bahwa air sejuk ruhani yang mereka cari selama ini berada dalam ajaran Islam.
Dan penemuan-pemuan modern telah juga membantu menggeser pendulum (mata rantai) sejarah menjadi berpihak kepada Islam. Di mana kajian-kajian kritis melalui teks-teks suci membuktikan, bahwa agama-agama dunia–selain Islam–saat ini tidak mampu mempertahankan kredibilitas kebenarannya.”
Maulana menegaskan bahwa, “Karena, ajaran-ajaran yang ada dalam agama-agama tersebut tidak sesuai dengan tuntunan fitrah manusia dan sekaligus tidak mampu memenuhi rasio, disebabkan adanya kontradiksi yang tidak bisa dipahami.
Sementara yang diperlukan dari kita saat ini adalah agar kita bisa mengimbangi, sekaligus mampu menggunakan koridor-koridor kesempatan tersebut untuk menjadikan ajaran Islam memiliki bobot di pentas peradaban dunia.”
Akhirnya, semoga para aktivis dakwah dapat memberikan pandangan baru tentang bagaimana menghadirkan Islam dengan nuansa yang damai dan menyejukkan.
Nashrumminallahi wa fahthun qarib wabasysyiril mukminin.
Sumber:
Maulana Wahiduddin Khan, Islam and Peace (Islam Anti Kekerasan), 2000.




















