“Akhlak merupakan pilar dan pagar yang mengokohkan bangunan bangsa, tatkala ia hancur, maka hancurlah bangsa itu, ketika moral bangsa telah ternoda, dirikan tenda untuk tangis belasungkawa”. (DR. Yusuf Al-Qardhawi).
BBN News – SEKARANG ini umat Islam tengah menghadapi berbagai tantangan. Tantangan dari luar, yakni berkembang biaknya dengan pesat pengaruh budaya barat yang sekuler, yang hendak mengancur leburkan budaya bangsa yang selama ini bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis, ramah, sopan dan santun serta peradaban yang tinggi dan terhormat.
Sedangkan tantangan umat Islam dari dalam adalah disana sini terdengarnya jeritan lantang dengan sebutan badai krisis akhlak, krisis moral, krisis akhlak yang menghempas hampir di seluruh persada tanah air tercinta ini, terjadi dimana-mana.
KITA KEHILANGAN AKHLAK ANAK BANGSA
Tahun demi tahun bangsa kita bertambah ribuan sekolah dibangun, ratusan pendidikan tinggi didirikan, semuanya itu ditegakkan dan dibangun tujuannya tidak lain hanyalah untuk mendidik manusia agar berakhlak mulia, berbudi pekerti yang luhur, bermoral, berkarakter dan beretika.
Setiap tahun juga sekolah dan perguruan tinggi mengeluarkan insan-insan terpelajar dan terdidik akan tetapi setiap tahun pula ibu pertiwi merintih sedih dan menjerit batinnya kehilangan anak-anak bangsanya dan satria jika pemuda-pemudi, putra, putrinya yang terdidik itu hanya tediri dari intelektual yang tinggi, tetapi hati dan kalbunya serta spritualnya kosong dari pengetahuan yang melahirkan dari pancaran iman dan akhlak yang mulia.
Bagaimana kita akan mempercayakan sebagai pimpinan umat, pimpinan bangsa, pimpinan negara di masa depan, andainya generasi pengganti kita, generasi yang tidak beriman dan tidak berakhlak ??? Akan bagaimana nasib masyarakat dan negara kita, jika pemegang amanat (kepemimpinannya) nanti jatuh ketangan manusia yang tidak bermoral, berakhlak, serta beriman ???.
PEMBANGUNAN AKHLAK MUTLAK BAGI SUATU BANGSA
Akhlak sangat penting untuk dimiliki seorang pemimpin, apakah ia pemimiin rumah tangga, pemimipin masyarakat maupun pemimpin bangsa.
Pembangunan akhlak mutlak bagi pembangunan bangsa dalam suatu negara, pembangunan bangsa manusia seutuhnya baru ada harkat martabatnya, jikalau masing-masing pribadi kita mendahulukan membangun akhlak.
Pembangunan Indonesia yang menjadi cita-cita kita semua akan gagal total kalau krisis akhlak masih terdengar di mana-mana di pelosok tanah air yang kita cinta ini, gedung besar dan bertingkat hanyalah merupakan susunan batu dan benda mati yang seakan tak berpenghuni kalau akhlak penghuninya telah turun ke tigkat yang paling rendah.
FILSAFAT AKHLAK dalam ISLAM
Filsafat akhlak dalam Islam berpusat kepada baik buruknya hubungan manusia dengan Tuhannya, jika baik hubungan manusia dengan Tuhannya pasti akan baik pula hubungan dirinya sesama manusia.
Cendikiawan pernah mengungkapkan, “Yakinlah bahwa manusia akan menjadi serigala terhadap manusia lainnya, jika ia tidak merasa mendapatkan pengawasan dari Allah SWT.”
Dengan demikian akhlak sangat memegang peranan penting dalam pribadi masyarakat dan bangsa. Karena itu akhlak sangat dibutuhkan bagi setiap insan, sebagai landasan atau dasar bagi setiap usaha, yang dilakukannya dimanapun ia berada.
BELAJAR DARI SEJARAH KERUNTUHAN SUATU BANGSA
Dari dahulu sampai sekarang, sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan suatu bangsa banyak ditentukan oleh faktor akhlak. Al Qur’an telah mengisahkan runtuhnya umat-umat masa lampau karena bobroknya akhlak mereka, seperti kaum Ad, kaum Samud dan penduduk negeri Sabak.
Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbas banyak disebabkan karena tindakan para khalifahnya yang hidup berpoya-poya dan menurutkan hawa nafsu mereka.
Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Retorika Islam, mengatakan, ” Tifak ada suatu bangsapun mampu menjaga eksistensinya, mempertahankan identitasnya, dan menhusung misinya, kecuali dengan akhlak.
Akhlak merupakan pilar dan pagar yang nengokohkan bangunan bangsa, tatkala ia hancur, maka hancurlah bangsa itu, ketika moral bangsa telah ternoda, dirikan tenda untuk tangis belasungkawa”.
Selanjutnya ia menyebutkan, “seorang muslim yang mengerjakan shalat, puasa, zakat, haji dan umrah, misalnya, tetap tidak memiliki akhlak yang terpuji, maka amalan-amalan itu tidak memberi manfaat bagi dirinya ataupun orang lain”. papar Yusuf Qardhawi.
KESIMPULAN
Dengan demikian akhlak sangat memegang peranan penting dalam diri pribadi masyarakat dan suatu bangsa. Maka berteladan dan bercermin kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw selama masa hidupnya akan memberi inspirasi dan tuntunan yang paling jelas, untuk kita adopsi dengan permasalahan dewasa ini yang sedang dihadapi negara dan bangsa yang kita cintai ini.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.




















