“Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Bukhari)
BERBAGI News – KRISIS moral dan ahklak saat ini sudah demikian parah. Namun konsistensi untuk memperbaiki akhlak umat akan terus berlanjut dan kita harus membantu untuk mencegah keparahan lebih besar. Kesadaran akan mulai muncul tatkala semuanya merasakan bagaimana hidup di tengah-tengah hancurnya moral dan akhlak yang rusak.
Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin dalam karyanya Upaya Menyelamatkan Umat mengatakan, ” Bangsa ini telah mengalami kerusakan dan krisis akhlak. Di kalangan bawah berbagai macam kerusakan telah terjadi. Lebih-lebih lagi di kalangan atas.
Tindakan dan perilaku lembaga pemerintah dan DPR yang bergaya kurang pantas (ditayangkan di televisi dan media lainnya dan disaksikan jutaan mata) adalah contoh paling mencolok terjadinya krisis akhlak di kalangan penyelenggara negara.”
Padahal, akhlak adalah sumber kekuatan bangsa. Dalam Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya akhlak. Bahkan Nabi Muhammad Saw., Nabi yang diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlak.
Kekuatan akhlak dan moral yang tercermin pada perilaku yang baik dan benar (amal saleh) merupakan inti utama ajaran Islam. Sesungguhnya tujuan Rasulullah Saw. diutus untuk menyempurnakan Akhlak manusia. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Bukhari)
Di dalam Al-Qur’an Allah memuji Rasulullah Saw. karena memiliki akhlak yang agung.” Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam: 4)
Dengan akhlak dan moral yang baik, segala potensi yang dimiliki manusia seperti ilmu pengetahuan, kekayaan, jabatan, dan potensi -potensi lainnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Sebaliknya, dengan akhlak dan moral yang buruk segala potensi tersebut akan sia-sia, bahkan cenderung menimbulkan kerusakan.
Berbagai kerusakan akhlak dan moral yang terjadi saat ini seperti keberutalan massa, kebebasan seks (perzinaan), merajalelanya penggunaan obat-obatan terlarang, kasus Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan sebagainya, menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengatasinya. Fitnah umat tersebut harus kita kikis agar generasi masa depan tidak mengalami dekadensi moral.
Jadi bagaimana menyelamatkan krisis akhlak bangsa ini menurut Didin Hafidhuddin mengatakan, “Program dakwah harus dilakukan secara terencana untuk mengatasi krisis akhlak yang merembet menjadi krisis multidimensi. Satu per satu masalah dibenahi. Agar umat bisa berbenah diri memperbaiki akhlaknya perlu tindakan menuju ke sana”.
KRISIS IMAN
Masalah utama selama ini terjadi, ada yang menyebutnya sebagai krisis ekonomi, krisis politik atau krisis apa saja. Namun pada hakikatnya, ini adalah KRISIS IMAN. Bangsa yang kurang iman akan tercermin dari kualitas akhlaknya. Iman yang buruk pasti melahirkan akhklak yang rusak. Jika akhlak sudah rusak, manusia akan kehilangan sifat amanah. Ketika dititipi uang, uang itu akan segera lenyap dengan tidak jelas hasilnya. Bermain politik pun akan kotor. Berdagang menjadi curang.
Menurut Aa Gymnastiar mengatakan, “Maka tidak akan pernah benar bangsa ini, jika tidak pernah bersungguh-sungguh kembali kepada Allah dengan menjadikan prinsip perbaikan akhlak sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara.”
Aa Gym juga menyorot peristiwa aktual di tanah air yang menimpa bangsa kita pada akhir-akhir ini, beliau mengatakan, ” Bangsa kita belum mengenal Tuhannya dengan baik. Dia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik. Dan sejak lama bangsa kita belum mengenal jalan untuk hidup secara benar.”
Dan beliau mengungkapkan, “Lihatlah, bagaimana hidup di dunia ini telah diurus dengan cara yang kurang tepat. Selama ini kita tidak memberi tempat yang pantas untuk mengenal Allah. Justru yang sangat kita agung-agungkan adalah harta, pangkat dan kedudukan. Apa yang kita kenal tak lebih dari perhiasan dunia belaka”.
BANGSA KURANG BERSYUKUR
Menurut Aa Gy Gym dalam tausyiahnya mengatakan, “Tidak usah heran, kekayaan negeri yang begitu melimpah sebagai karunia Allah. Negara yang kaya bangsanya menjadi miskin, penuh tumpukan hutang. Negara subur makmur, bangsanya tenggelam dalam penderitaan.”
Semua ini mengisyaratkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kurang bersyukur.”
Firman Allah Swt: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesunghuhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Oleh karena itulah, semoga para pejabat petinggi negeri kita turut mendengarkan jeritan hati rakyatnya yang tersebar dari seluruh penjuru negeri, dari kota sampai kepelosok desa.
Jika kita mau berpikir kritis dan me-manage negeri ini dengan cara yang tepat artinya dengan baik dan benar, insya Allah dampaknya akan sangat besar bagi perbaikan akhlak bangsa kita. Sepatutnya hal ini menjadi bahan renungan kita bersama dengan serius.*
Sumber:
- Upaya Menyelamatkan Umat, Prof. DR. K.H. Didin Hafidhuddin, 2006.
- Tausyiah Untuk Bangsa, KH. Abdullah Gymnastiar, 2002.
- Bacaan lainnya.




















