Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
Religi

Kisah dan Hikmah: Kepedulian Seorang Pemimpin Kepada Rakyatnya

38
×

Kisah dan Hikmah: Kepedulian Seorang Pemimpin Kepada Rakyatnya

Sebarkan artikel ini

Penulis: Aswan Nasution

Ust. Aswan Nasution. (Foto: doc Pribadi)
Banner IDwebhost

BERBAGI News – MALAM kian pekat. Dingin angin malam gurun pasir menusuk tulang. Malam itu, Khalifah Umar bin Kahtab tengah berjaga seraya memandang sekeliling padang pasir dan rumah-rumah penduduk.

Pada satu tempat, nun jauh dari penglihatan khalifah, terlihat seperti ada sinar yang disebabkan nyala api. Melihat sinar itu Khalifah dengan ditemani Abdul Rahman bin Auf mencoba untuk mendekatinya.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Sesampainya di tempat tersebut, Khalifah mendapati sebuah rumah yang didalamnya terlihat seorang ibu seolah sedang memasak sesuatu [bukan makanan]. Sementara didekat sang ibu itu, beberapa anaknya menangis karena merasa lapar. Di malam yang telah larut itu, anak-anak itu tidak bisa tertidur karena lapar yang tak tertahankan.

Menyaksikan peristiwa tersebut khalifah mendekat kepada ibu dan mengucapkan salam. Kepada ibu itu khalifah bertanya: “Mengapa engkau melakukan ini, kepada anak-anakmu?”

Mendengar pertanyaan khalifah, ibu itu hanya menjawab: “Semoga Allah menyadarkan Umar. Pantaskah seseorang menjadi Amirul Mukminin [khalifah] tetapi ia tidak mengetahui keadaan rakyatnya?”

Baca Juga:  Lombok Bersiap Sambut Tabligh Akbar Sahabat UAS "Semeton Seumur Irup" Bersama Ustadz Abdul Somad

Hati khalifah amat terenyuh mendengar perkataan ibu tersebut. Dengan perasaan pedih dan kedukaan yang mendalam khalifah segera meninggalkannya untuk pergi ke Baitul Mal. Dan, khalifah menangis sepanjang perjalanan karena merasa belum dapat memenuhi amanah yang diembannya sebagai seorang pemimpin negara. Dalam perjalanan khalifah senantiasa berdo’a atas kelalaiannya hingga tidak mengetahui semua kedaan rakyatnya.

Ketika tiba di Baitul Mal, khalifah segera mengambil gandum, sagu dan minyak goreng, dan beliau sendiri yang mengangkut bahan-bahan makanan itu. Sehingga seorang penjaga Baitul Mal merasa tertegun melihat perbuatan khalifah yang menampakkan kesedihan.

“Ada apakah, wahai Amirul Mukminin?” Tanya penjaga Baitul Mal itu. Khalifah tidak menjawab pertanyaan penjaga BItul Mal, tetapi hanya meminta tolong kepadanya agar barang-barang dinaikkan ke pundak khalifah.

“Wahai khalifah, biar aku saja yang membawakannya,” kata penjaga itu. Namun khalifah menjawabnya dengan suara tegas ” Apakah engkau mau aku menanggung dosa lebih banyak lagi?

Baca Juga:  Kebahagiaan Hanya Bisa dicapai Lewat Kebajikan Bukan Kekayaan

Kemudian khalifah dengan berjalan cepat membawa bahan-bahan makanannya ke tempat ibu yang anak-anaknya sedang kelaparan. Sesampainya di tempatnya khalifah meletakkan bahan-bahan makanan itu. Kemudian ibu itu berkata; “Demi Allah, engkau lebih pantas menjadi khalifah daripada Umar.”

Mendengar perkataan ibu itu, khalifah hanya berpesan kepadanya; “Wahai ibu, adukanlah permasalahanmu itu kepada khalifah Umar, di tempatnya.”

Esok harinya, ibu itu datang ke tempat khalifah Umar. Tatkala masuk ibu itu sangat terkejut, karena ia melihat orang yang semalam membawa bahan-bahan makanan untuknya itu duduk di tengah-tengah Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud Ra. dan keduanya menyebutnya Amirul Mukminin.

Ibu itu tertegun dan diliputi rasa takut, setelah mengetahui yang datang semalam ke rumahnya dan membawa bahan makanan untuknya adalah seorang Amirul Mukminin. Ibu itu pun merasa khawatir keluh kesah dan pembicaraannya yang kurang mengenakkan semalam itu akan dipermasalahkan.

Baca Juga:  Yuks! Tunaikan Qurban Untuk Pelosok

Melihat keluhan ibu itu, khalifah menyapanya dengan ramah: “Wahai ibu, janganlah bersedih hati dan merasa khawatir. Berapakah ibu akan menjual keluh kesah ibu kepadaku?”

Dengan rasa takut ibu itu berkata: “Ya Amirul Mukminin, aku mohon maaf,”

“Engkau tidak akan meninggalkan tempat ini, sebelum engkau menjual keluh kesah kepadaku”, kata khalifah. Sehingga, berlakulah transaksi jual beli keluh kesah itu dengan 600 dirham. Khalifah membayarnya dengan uang pribadinya.

Setelah itu, khalifah memerintahkannya pada Ali bin Abi Thalib untuk menuliskannya pada sebuah kertas. Pada kertas itu tertera tulisan yang berbunyi: “Kami Ali bin Abi Tahlib dan Ibnu Mas’ud menjadi saksi, Fulanah telah menjual keluh kesahnya kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khatab.

Setelah transaksi selesai, khalifah Umar bin Khatab berkata: “jika aku wafat, masukanlah kertas itu dalam kain kafanku, sehingga ketika aku menjumpai Allah dengan hati yang bersih dari kezaliman.” Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: SKJ. 203. 98.

Example 300250