“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [QS. Al-Mujaadilah: 11].
SEPULUH orang khawarij sowan ke tempat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karena mereka merasa iri dengki dengan kepandaian beliau dalam bidang ilmu agama dan sebabainya.
Disamping itu juga tersiar keseluruh kota Madinah bahwa Nabi Muhammad Saw, pernah bersabda: “Aku ini kotanya ilmu, dan Ali sebagai pintunya”.
Sesampainya sepuluh orang dihadapan Ali, mereka diterima beliau dengan baik dan dianggap sebagai tamu yang terhormat.
“Wahai Ali! Kami adalah sepuluh orang yang diutus kaum kami untuk menanyakan sesuatu kepadamu. Dan nanti kami masing-masing akan bertanya kepadamu berganti-ganti.
Jawaban yang kami terima nanti, akan kami bawa kepada kaum kami,” kata salah seorang dari mereka, membuka pembicaraan.
“Baiklah! Tentang apa kiranya?” Tanya Ali. Orang pertama bertanya kepada Ali: “Hai Ali, manakah yang lebih mulia, ilmukah atau harta benda. Dan terangkan sebab-sebabnya?”
” Ilmu adalah warisan para Nabi. Sedangkan harta kekayaan adalah warisan Fir’aun, Qorun, dan sebangsanya. Maka ilmu lebih mulia daripada harta,” jawab Sayyidina Ali.
Orang kedua bertanya, yang pertanyaannya sama dengan orang pertama. “Ilmu lebih mulia dari pada harta benda, karena ilmulah yang memelihara yang empunya. Sedangkan harta, maka yang empunyalah yang harus menjaganya,” jawab Sayyidina Ali.
Orang ketiga bertanya, yang pertanyaanya persis seperti pertanyaan orang pertama dan orang ketiga. ” Ilmu lebih mulia dari pada harta, karena orang yang berilmu banyak sahabatnya, sedangkan orang banyak hartanya lebih banyak musuhnya, “jawab Sayyidina Ali.
Orang keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh bertanya kepada Sayyidina Ali dengan pertanyaan yang sama. Yaitu, apa sebabnya ilmu lebih baik dari pada harta benda. Kepada setiap penanya, Sayyidina Ali dapat menjawab dengan jawaban yang berbeda.
Kepada penanya keempat Ali menjawab: ” Ilmu lebih mulia dari pada harta, karena ilmu bila disebarkan atau disiarkan akan bertambah. Tetapi harta benda, bila disebarkan akan berkurang.”
Kepada penanya kelima Ali menjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta benda, karena ilmu tidak dapat dicuri, sedangkan harta benda dapat dicuri dan dapat hilang.
Kepada penanya keenam Ali menjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta karena ilmu tidak dapat binasa dan tidak dapat habis selamanya, sedangkan harta benda bisa habis atau bisa lenyap karena masa dan usia.”
Kepada penanya ketujuh Ali menjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta, karena ilmu tidak ada hingganya, tidak ada batasnya. Sedangkan harta benda ada batasnya, dapat dihitung jumlahnya.”
Kepada penanya kedelapan Ali menjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta benda, karena ilmu memberi sinar kebaikan, menjernihkan pikiran. Sedangkan harta benda pada umumnya menggelapkan jiwa dan hati.”
Kepada penanya kesembilan Ali memjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta benda, karena orang yang berilmu lebih suka kepada kebajikan dan mendapat sambutan mulia, seperti “Alim” dan sebutan mulia lainnya. Sedangkan orang berharta bisa melarat, dan lebih cenderung kepada sifat kikir.”
Kepada penanya kesepuluh Ali menjawab: “Ilmu lebih mulia dari pada harta benda, karena orang yang berilmu lebih mendorong untuk mencintai Allah, merendahkan hati, bersifat berprikemanusiaan. Sedangkan harta benda membangkitkan rasa sombong, dan angkuh.”
Kesepuluh orang khawarij heran dan kagum terhadap kepandaian dan kedalaman ilmu yang dimiliki Ali bin Abi Thalib.
“Ali memang orang pandai. Ia pantas dikatakan sebagai pintu gerbangnya ilmu. Sedangkan Nabi Muhammad Saw, sebagai kota ilmunya,” kata orang-oramg khawarij itu.
Tentang kemuliaan bagi orang yang berilmu, Allah Swt, berfirman di dalam Al-Qur’an: Artinya: ” Akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah: 11].
Wallahu a’lam.
Dinukil dari: SKJ.171.1995.




















