Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
Religi

Hijrah dan Perubahan

36
×

Hijrah dan Perubahan

Sebarkan artikel ini
Banner IDwebhost

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah: 218].

UMAT Islam akan memasuki tahun baru Hijriah ke 1447 H. Berbagai persiapan penyambutan untuk menyerap spirit hijrah telah dilakukan oleh berbagai pihak, agar momentum tahun baru tersebut tidak berlalu tanpa pemaknaan yang berarti.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Namun, lebih dari sekedar kemeriahan agenda kegiatan yang dipersiapkan untuk menyambut tahun hijriah, secara spesifik, kita sebagai seorang Muslim seyogyanya memiliki kesiapan menyambut momentum berharga tersebut sebagai media perubahan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim menyambut pergantian tahun Hijriah ini dengan kesungguhan untuk benar-benar mengagendakan dan mewujudkan suatu perubahan. Perubahan seperti apa?. Jelas perubahan yang terkandung dari makna hijrah itu sendiri sebagaimana telah disampaikan Rasulullah SAW.

Tahun baru Hijriyah adalah sistem penanggalan Islam yang berdasarkan pada peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Peristiwa tersebut menjadi starting point peradaban Islam menuju puncak kejayaan.

Dari peristiwa hijrah itu, spirit iman menjadi nyata dalam kata dan perbuatan, sehingga tidak heran jika setelah hijrah banyak sekali para sahabat yang memiliki kepribadian unggul nan mengagumkan. Perubahan mindset benar-benar terjadi secara totalitas pada diri seluruh umat Islam kala itu.

Prof. Ismail R. Al-Faruqi menjelaskan, bahwa jirah ke Madinah merupakan puncak dari upaya yang lama dalam mencari tempat yang dapat dijadikan sebagai titik tolak pengembangan baru dan sekaligus untuk menata masyarakat Muslim, baik sebagai tatanan sosial maupun negara. Hijrah pertama [ke Habasyah] kata Faruqi lebih lanjut, sungguh baru merupakan pelarian fasif menuju keselamatan, sedang hijrah kedua merupakan suatu langkah dalam mengubah dunia dan memasuki sejarah ke arah baru.

Adalah memang realita, bahwa Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin di Makkah tidak lebih dari sekedar rakyat jelata dan masyarakat lemah yang tertindas; tak punya kekuatan apa-apa, kecuali keimanan yang membaja dan kesabaran yang prima. Itu, tak lebih. Baru setelah hijrah, di Madinah, Islam secara resmi eksis, kaum Muslimin mendapat kedudukan [makanah] dan kemudian bisa menjalakan perannya sebagai ummatan wasathan, yaitu ummat pertengahan yang memimpin peradaban dunia.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang hijrahnya Nabi ke Madinah, minimal ada tiga fenomena besar yang sangat jelas sebagai buah hijrah, sehingga hijrah ini menjadi betul-betul sangat penting: Tonggak kebangkitan ummat Islam.

Pertama: Eksisnya agama Islam di atas semua sistem yang ada [dhuhurul Islam ‘ala ad-diini kullih]. Di sinilah janji Allah terwujud, sebagai hasil [natijah] hijrah, bahwa Islam pasti dhuhurur ‘ala ad-diini kullih [eksis di atas semua sistem atau pandangan hidup yang ada].

Kedua, berdirinya negara Islam [qiyamud Daulah al-Islamiyah]. Islam sebagai minhajul hayah, sistim hidup, yang lengkap menata dan mengatur kehidupan manusia secara totalitas baik masalah sosial, politik, hukum, da’wah, jihad, ibadah, aqidah dan seterusnya, semuanya itu tak mungkin bisa diwujudkan tanpa adanya suatu daulah.

Ketiga, Tampil memimpin peradaban dunia [sebagai ummatan wasathan]. Rasulullah Muhammad SAW adalah diutus untuk membawa rahmat kepada seluruh manusia dan sekalian alam.

Oleh karena itu, negara yang didirikan oleh Nabi bukan saja moderen tapi sungguh sangat unik. Sebuah negara yang tanah airnya tak punya batas-batas geografis yang sempit, dan yang menjadi rakyatnya pun tak didasarkan atas kelahiran, warna kulit, bahasa, bangsa, suku atau kebudayaan.
Tetapi, yang menjadi tanah airnya adalah jagad raya yang pemilik sesungguhnya hanya Allah dan rakyatnya adalah siapa saja yang penting beriman kepada Allah atau mau tunduk kepada hukum-hukum-Nya. [Lihat, Masyarakat Islam, Sayid Quthb, Al-Ma’arif, hal. 70].

Dengan wujud sepert itulah, daulah yang dibangun oleh Rasulullah SAW menjadikan ummatnya yang note bene khoiru ummah sebagai ummatan wasathan [ummat pertengahan] yang tampil memimpin peradaban dunia, menyerukan yang makruf dan mencegah segala bentuk kemunkaran sekaligus menjadi saksi atau penjaga atas seluruh pola tingkah ummat manusia.

Akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa kebangkitan kembali ummat Islam adalah satu-satunya alternatif sangat dinantikan. Tapi, bagaimana caranya? Sederhana saja. Itu tak mungkin, kecuali dengan cara yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish showab.

Example 300250
Baca Juga:  Kisah dan Hikmah: Kepedulian Seorang Pemimpin Kepada Rakyatnya