“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar].” [QS. Ar-Rum: 41].
ALLAH Subhanahu wa Ta’aalaa memperingatkan manusia melalui peristiwa alam, seperti kebanjiran melalui curah hujan dan kekeringan yang berakibat kebakaran di linkungan perumahan dan hutan serta sejenis lainnya, semuanya itu sudah dijelaskan Allah melalui firman-Nya, adalah karena perbuatan tangan manusia atau karena akibat perilaku manusia itu sendiri.
“Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, yang akibatnya Allah timpakan [kerusakan] kepada mereka [merupakan hukuman dari Allah] atas sebagian dari yang mereka kerjakan, supaya mereka kembali ke jalan yang lurus.” [QS. Ar-Rum: 41].
Bencana alam datang tanpa seorang pun bisa menerka kedatangannya. Tiba-tiba dia muncul, melenyapkan semua kesenangan yang kita nikmati dan juga harta benda kekayaan yang kita miliki dengan sekejap saja dapat menghilang.
Sungguh, dihamparan bencana-bencana yang memilukan ini, tidak ada lagi kesombongan, keangkuhan, kehebatan yang bisa angkat bicara. Perhatikanlah, adakah manusia yang merasa paling cerdas otaknya, paling tinggi kekuasaannya, paling kuat tubuhnya dan yang paling licik siasatnya, adakah mereka sanggup menahan gelombang bencana ini?
JADIKAN MUSIBAH SEBAGAI NASIHAT
Kenapa terjadi musibah; banjir, longsor, kebakaran dan kecelakaan lain. Banyak yang bertanya, kenapa semua itu terjadi?
Jawaban pertanyaan tersebut mungkin saja beragam .
Namun sangat tidak tepat jika jawabannya hanya dikaitkan dengah fenomena alam saja. Allah Ta’ala telah mengajarkan orang beriman untuk melihat setiap musibah sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari dampak ulah manusia.
Allah berfirman; “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya sangat pedih lagi keras.” [QS. Huud: 102].
Dalam Sunan Ibnu Majah bahwa terdapat satu bab yang berjudul al-uqubat. Dalam bab itu secara khusus dituliskan Hadits-hadits yang menyebutkan dosa sekaligus hukumannya.
Semuanya ini menjadi bukti adanya hubungan sebab akibat antara dosa dan musibah. Karenanya, ketika musibah terjadi, maka langkah yang tepat adalah segera bermuhasabah dengan mengoreksi amalan kita.
MUSIBAH SEBAGAI PEMBELAJARAN
Setidaknya ada tiga hikmah di balik musibah yang dapat diambil sebagai bahan pembelajaran.
Pertama, sebagai ujian keimanan, Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Baqarah: 155].
Kedua, sebagai penggugur dosa. Musibah ataupun cobaan yang menimpa seorang hamba dapat menjadi sarana penggugur dosa atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat baik sengaja maupun tidak. Rasulullah SAW bersabda: “Ujian menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa dosa pun atasnya.” [HR. At-Tirmidzi].
Ketiga, sarana untuk bermuhasabah diri. Musibah ataupun cobaan yang menimpa hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk introspeksi diri, bukan bahan penyesalan yang tak berkesudahan, berkeluh kesah, hingga berputus asa.
Allah berfirman: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS. Al-Hadiid: 22]. Wallahu a’lam bish showab.




















