“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [QS.Al-‘Ashr [103]: 1-3].
APA Sebenarnya pesan yang tersirat di balik perumpamaan umur umat Islam seperti sisa waktu antara ashar hingga maghrib?
Ada hal yang menarik untuk direnungkan ketika Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kehidupan kita sekarang seperti kondisi ba’da ashar. Pada saat yang sama Allah SWT mengingatkan manusia akan pentingnya memerhatikan waktu ashar.
Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [QS. Al-‘Ashar [103]: 1-3].
Para ulama menjelaskan bahwa apabila Allah SWT bersumpah dengan makhluk-Nya, maka itu merupakan isyarat agar manusia memerhatikan apa yang menjadi objek sumpah tersebut. Karena, pasti hal itu sangat penting dan memiliki makna yang sangat dalam. Maka, dalam hal ini Allah menginginkan agar manusia memerhatikan waktu asharnya.
Mari kita perhatikan apa yang paling banyak dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan waktu ashar. Kalau kita perhatikan secara umum, ternyata perilaku kebanyakan manusia dalam menggunakan waktu ba’da ashar sangat tergantung dengan rencana dan planing mereka di waktu isya’ dan setelahnya.
Jika mereka memiliki rencana, program, dan pekerjaan penting, maka mereka akan menggunakan waktu asharnya untuk nenyiapkannya. Namun, bila mereka tidak memiliki rencana dan planing besar untuk ba’da isya’nya, maka kebanyakan kita cenderung santai dan menggunakan waktu ashar untuk hal-hal yang tidak bernilai.
Jika hal itu kita kiaskan dengan perbandingan umur umat Islam dan perjalanan waktunya, maka bisa simpulkan bahwa sikap hidup manusia di dunia [tentang bagaimana mereka menggunakan usia dan mengisi kehidupannya], semua sangat tergantung dengan rencana dan program dia nanti untuk kehidupan alam barzakh dan akhiratnya.
Karenanya, visi dan paradigma manusia tentang kehidupan di dunia sangat tergantung dengan rencana dan planing mereka tentang kehidupan akhiratnya. Bagi orang beriman, karena dia akan merencanakan kehidupan akhirat yang terbaik [Surga], maka dia akan mengisi waktu dalam kehidupannya untuk memperbanyak bekal bagi kehidupan akhiratnya.
Seorang Mukmin sadar bahwa Surga sangat mahal, maka harus ditebus dengan amalan spesial yang bisa mendatangkan rahnat Allah SWT. Karenanya Allah mengingatkan orang-orang yang beriman untuk tidak meniru gaya dan lifestyle orang kafir, dimana kebanyakan mereka menjadikan dunia seperti taman bunga yang membuat mereka tergoda untuk memetiknya.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” [QS. Thaha [20]: 131].
Maka, bagi orang kafir, dunia seperti bunga yang merah merona, segar, cantik, indah dan bau harumnya menggoda setiap orang untuk memetiknya. Namun, begitu bunga tadi dipetik, maka tak berapa lama bau harumnya akan hilang, keindahannya akan pudar, merah segarnya akan segera layu, lalu mengering dan hilang ditiup angin.
Begitulah kehidupan orang kafir, semua capaian materi duniawi yang berhasil mereka peroleh, seperti bunga yang bentuk dan bau harumnya menggoda. Namun setelah mereka mencapai semua kenikmatan materi tadi, maka dunia yang mereka peroleh akhirnya harus ditinggalkan begitu saja saat ajal telah mendatanginya.
Pangkat, jabatan, kedudukan, kehormatan, rumah, kenderaan, dan semua aset materi itu adalah bunga yang akhirnya akan layu dan hilang ditiup angin. Semua yang mereka peroleh akan hilang saat kematian mendatanginya.
Adapun bagi orang beriman, dunia adalah ladang amal, negeri bercocok tanam. Bunga bukanlah hasil akhir. Musim bunga bukanlah waktu untuk memanen. Justru masa itu merupakan permulaan untuk menjadi buah yang kelak akan dipanen. Seorang petani tidak akan memetik bunga dimusim semi, justru dia akan merawatnya dengan sabar, memupuk, menyiram, dan menjaga dari berbagai hama dan gangguan yang bisa membuat gagal panen.
Dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas ra, berkata: “Sesungghnya Allah SWT menjadikan dunia menjadi tiga bagian; bagian pertama untuk Mukmin, bagian kedua untuk orang munafik, bagian ketiga untuk orang kafir. Maka, seorang Mukmin menjadikan dunia sebagai bekal untuk akhiratnya, sedangkan orang munafik menjadikan dunia sebagai perhiasan, dan orang kafir menjadikan dunia sebagai kesenangan.”
Demikianlah, orang-orang beriman akan bersabar dalam beramal mencari bekal untuk kehidupan akhiratnya. Semua dilakukan dengan tingkat kesadaran penuh bahwa di akhiratlah kehidupan mereka yang sesungguhnya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshowab.
Referensi: Nasihat Akhir Zaman yang Menggugah dan Mencerahkan, Abu Fatiah Al-Adnani, [2018].




















