Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
Religi

Ibadah Haji dan Perbaikan Akhlaq Bangsa

37
×

Ibadah Haji dan Perbaikan Akhlaq Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Aswan Nasution

Banner IDwebhost

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” [QS. Al-Baqarah (2): 197].

MOMEN ibadah haji yang setiap tahun dijalani umat Islam Indonesia adalah momen emas. Ini adalah perhelatan besar yang sebenarnya bisa digali sebesar-besar manfaat darinya. Jika kita mau berpikir kritis dan me-manege haji ini dengan cara yang tepat, Insya Allah dampaknya akan sangat besar bagi perbaikan akhlak bangsa kita.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Setiap tahun, pemerintah Indonesia memberangkatkan ribuan jamaah haji dari seluruh Indonesia. Dengan pertolongan Allah, jika seluruh jamaah haji berubah akhlaknya menjadi lebih baik, [saleh dan soleha] maka betapa beruntungnya bangsa kita yang selama ini dikenal paling banyak memberangkatkan jamaah haji.

Jika jumlah sekitar ribuan para jamaah itu kembali ke tanah air, telah selesai menunaikan ibadah haji, menyempurnakan rukun Islam yang ke lima, lalu menularkan barakah ibadah haji yang mereka peroleh ke sekelilingnya, insya Allah kita tidak perlu menunggu lama untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam skala luas.

Oleh karena itulah, semoga para pejabat petinggi negeri ini, turut mendengarkan, bahwa tidak pernah ada kejadian kolosal yang sangat dahsyat pernah terjadi di negara kita selain ibadah haji. Ribuan jamaah, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pejabat sampai rakyat jelata, tersebar dari seluruh penjuru negeri, dari kota sampai pelosok desa, dengan menggunakan waktu yang cukup lama untuk bersimpuh-sujud kepada Allah, menggunakan uang hasil jerih-payah sendiri, tanpa meminta kepada siapapun, dengan didasari niatan baik untuk memperbaiki diri.

Seharusnya pemerintah kita dan diri kita, mau berpikir keras untuk mendayagunakan momen ibadah haji ini agar bisa merubah akhlak bangsa kita. Ini adalah kesempatan yang terjadi hanya satu tahun sekali. Saat haji, ratusan ribu manusia berhenti sejenak dari kesibukan harian yang mereka geluti. Kemudian mereka berkonsentrasi penuh untuk beribadah sambil memperbaiki diri.

Semoga Allah menjadikan para pemimpin yang diamanahi tugas memimpin negeri ini, bisa mengelola haji kita dengan benar, sehingga ribuan jamaah haji yang setiap tahun berziarah ke tanah suci bisa menjadi cahaya bagi bangsanya. Alangkah percuma jika ibadah haji ini hanya menjadi rutinitas yang tidak ada dampak baiknya sama sekali. Ratusan ribu jamaah setiap tahun berangkat ke tanah suci, dengan niat baik, bahkan dengan ongkos mereka sendiri.

Jika semua ini tidak bisa dikelola dengan baik hingga berbuah manfaat yang nyata, maka betapa malangnya diri kita. Mengurus orang yang sudah berniat baik saja gagal, apalagi mengurus orang-orang yang lebih buruk dari itu. Lalu apalagi yang bisa di urus oleh bangsa ini?

Merubah bangsa dengan sarana haji bukan mustahil. Secara logika kita mudah memahaminya. Namun persoalannya adalah bagaimana caranya agar para jamaah haji yang ratusan ribu itu benar -benar berubah menjadi lebih baik sepulang mereka dari tanah suci.

Dua ratus ribu atau bahkan sejuta jamaah haji setiap tahun diberangkatkan, jika tidak ada perubahan baik sesudah itu, apalah artinya? Maaf, mungkin saja kita merasa telah berhaji, padahal sebenarnya nilai haji kita itu sendiri tak lebih dari sekedar wisata belaka. Nau’dzubillah min dzalik.

Seperti dicatat dalam khutbah Arafah KH. Abdullah Gymnastiar mengatakan: “setidaknya ada tiga hal yang bisa menjadi bukti ke-mabrur-an ibadah haji itu. Pertama, adalah peningkatan kualitas ketakwan. Kedua, kerelaan hati untuk berkorban. Dan ketiga, lurusnya tujuan hidup. Jika tiga hal ini bisa dibawa pulang oleh tiap-tiap jamaah haji, insya Allah kualitas hajinya mabrur. Sebaliknya, jika dalam tiga hal itu tidak ada perbaikan sedikitpun, itulah haji yang telah kehilangan makna”. Dan haji seperti inilah yang tidak berdampak baik bagi bangsa kita.

Semoga Allah yang Maha Mengabulkan doa, dimana para jamaah haji ketika wukuf di Arafah sebagai puncak seluruh rangkaian ibadah haji, berdoalah sehingga negeri ini dapat melahirkan para pemimpin bangsa yang bisa menegakkan keadilan dan kebenaran. Karena inilah tempat terbaik yang bisa kita gunakan untuk merubah akhlak dan martabat bangsa kita. Amiin yaa Allah, yaa Rabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bis showab.

Penulis: Alumni 79′ Pelajar Al-Qismul A’ly Al-Washliyah, Jln. Ismailiyah, Medan. Berdomisili di Lombok Barat – Nusa Tenggara Barat [NTB].

Example 300250
Baca Juga:  Pesan Moral dari Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW