Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
Opini

Opini – Demokrasi Bukan Tentang Uang !!!

31
×

Opini – Demokrasi Bukan Tentang Uang !!!

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhamad Syarkawi

Penulis: Muhamad Syarkawi, Mahasiswa KPI, Universitas Islam Negeri Mataram. Foto (Doc.Pribadi).
Banner IDwebhost

BERBAGI News – Kalau kita berbicara tentang demokrasi, seharusnya kita berbicara tentang kebebasan, keadilan, dan hak setiap individu untuk bersuara. Tapi sekarang apa yang terjadi? Banyak orang sudah mulai menganggap demokrasi itu soal siapa yag punya uang paling banyak. Seolah olah, tanpa uang, suara rakyat tidak ada artinya.

Fenomena politik uang ini juga dapat menciptakan “spiral of silence,” dimana individu merasa tertekan untuk mengikuti arus mayoritas (yang telah “dibeli” dengan uang) meskipun mereka tidak setuju. Hal ini dapat membungkam suara-suara yang sebenarnya ingin memilih berdasarkan prinsip dan gagasan, bukan berdasarkan uang.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Merujuk pada Journal of Communication Sciences (JCoS) 4 (1) 2021 membahas fenomena politik uang di pemilu nasional dan daerah Indonesia. Studi ini mengungkapkan bahwa praktik jual-beli suara telah menjadi bagian yang sulit dikontrol dalam demokrasi Indonesia. Salah satu implikasinya adalah perlunya perhatian serius terhadap politik uang untuk menjaga kualitas demokrasi di masa depan.

Pada saat pemilu, amplop amplop sering kali kita jadikan senjata utama untuk “memenangkan” hati rakyat. Bukannya saling beradu gagasan atau menawarkan solusi nyata, para calon malah sibuk membangun kekuatan finansial untuk membeli suara. Dan lucunya, banyak yang mulai menganggap ini hal biasa. “Ah, semua juga pakai uang,” kata mereka. Tapi benarkah ini yang kita inginkan dari demokrasi?

Baca Juga:  Melihat Pola Baru Politik NTB: Antara Koalisi dan Kompetisi

Demokrasi yang sejati bukan tentang siapa yang bisa membayar lebih mahal, tapi tentang siapa yang mampu memberikan perubahan terbaik. Uang memang bisa membeli suara, tapi tidak bisa membeli kepercayaan yang tulus.

Baca Juga:  Kemerdekaan Buah Takwa

Ketika pemilih hanya tergoda oleh uang, mereka sebenarnya sedang menjual masa depan mereka sendiri. Pemimpin yang terpilih bukan karena kompetensi, melainkan karena tebalnya kantong, biasanya hanya memikirkan cara untuk balik modal.

Hal seperti ini menciptakan siklus yang buruk. Masyarakat jadi terbiasa melihat politik sebagai transaksi, bukan perjuangan untuk kepentingan bersama. Padahal, demokrasi lahir dari semangat melawan ketidakadilan, dari keinginan untuk memastikan bahwa setiap orang punya hak yang sama, bukan dari keinginan untuk memperjualbelikan suara.

Baca Juga:  Pecah Suara : Zul Rohmi Gagal Mempertahankan Kursi Gubernur NTB

Untuk mengubah situasi ini memang tidak mudah, tapi kita harus mulai dari diri sendiri. Kita harus berani berkata tidak pada politik uang. Kita harus memilih berdasarkan hati dan pikiran, bukan berdasarkan amplop. Karena setiap suara yang kita berikan adalah harapan untuk masa depan, bukan sekadar alat untuk keuntungan sesaat.

Demokrasi bukan tentang uang. Demokrasi adalah tentang manusia, tentang nilai, dan tentang keadilan. Jangan biarkan uang merusak makna besar dari sistem yang seharusnya menjadi milik kita bersama. ***

Example 300250