Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
AgamaNgaji

Kapan Kita Memperbaiki Diri

40
×

Kapan Kita Memperbaiki Diri

Sebarkan artikel ini
Banner IDwebhost

BERBAGI News – KAPAN kita memperbaiki diri kalau tidak mulai dari sekarang.

Pantaskah kita menunda waktu, padahal kita tidak tahu kapan kehidupan kita di dunia ini akan berakhir.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Ingatlah bahwa Allah tidak menjadikan ke kehidupan ini abadi, sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an ;

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya (ajalnya) mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) dapat memajukannya.”
(Al-Araf : 34)

Sehubungan ini ada sebuah riwayat yang menerangkan bahwa pada suatu hari anak Umar bin Khatab kembali pulang dari bermain bersama teman-temannya dengan menangis.

Baca Juga:  Sajian Ramadhan 1 : Marhaban Ya Ramadhan

Ketika ditanya oleh ayahnya, lalu anak itu menjawab; Wahai ayahku, ketika aku tadi bermain bersama teman- temanku mereka menghitung tambalan bajuku dan mengejekku dengan ucapan begini; “Lihatlah anak Amirul Mukimin, bajunya tambalan seperti ini.”

Mendengar pengaduan anaknya itu timbulah rasa kasihan dalam hati Umar bin Khatab terhadap anaknya.

Oleh karena itu lantas beliau mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara yang isinya minta agar beliau dipinjami uang sebanyak empat dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong.

Baca Juga:  Memaknai Hakikat Kemerdekaan

Kemudian bendaharawan itu mengirimkan lagi surat jawaban yang isinya demikian;

“Wahai Umar, adakah engkau telah memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum engkau melunasi hutangmu? Apa yang engkau perbuat terhadap hutangmu di hadapan Allah ?”

Setelah membaca surat dari bendaharawan negara itu maka seketika Umar tersungkur menangis, lalu menasihati dan berkata kepada anaknya;

“Wahai anakku, pergilah bersama teman-temanmu sebagaimana biasanya, karena aku tidak dapat memperhitungkan umurku walaupun satu jam lagi.”

Baca Juga:  Sajian Ramadhan 2 : Puasa dan Taqwa

Demikianlah keterbatasan umur dan siapapun tidak tahu tentang batas umur yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu marilah kita segera memperbaiki diri dan jangan ada menunda waktu lagi, kita pergunakan kesempatan kita hidup di dunia yang terbatas ini dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Balilighu ‘annii walau aayah. Sampaikan oleh kalian apa-apa yang kalian dapat dariku meskipun hanya satu ayat.” (Al-Hadits)

Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bish shawab.

Example 300250