GONTB – Ada satu kegelisahan yang belakangan ini sering hadir dalam pikiran saya: bagaimana cara menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman yang begitu cepat?
Pertanyaan itu muncul setiap kali saya menyaksikan arena Peresean, permainan rakyat khas Suku Sasak di Lombok yang bukan hanya menyuguhkan ketangkasan dua pepadu dengan rotan dan perisai, tetapi juga menghadirkan semangat keberanian, persaudaraan, dan sportivitas yang begitu kuat.
Peresean bagi masyarakat Sasak bukan sekadar tontonan rakyat.
Ia adalah simbol kebanggaan (pride) sekaligus harapan (hope).
Dalam setiap denting rotan yang beradu, tersimpan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan kehormatan.
Para pepadu bertarung bukan untuk saling membenci, tetapi untuk menunjukkan keberanian, lalu saling menghormati setelahnya.
Tradisi ini telah menembus batas waktu, diwariskan dari generasi ke generasi, dan melahirkan banyak sosok pendekar yang namanya melegenda di Gumi Paer Sasak Lombok.
Salah satu di antaranya adalah sosok pepadu legendaris yang bagi saya sangat inspiratif: Haji Rizal.
ARYA KAMANDANU DARI KEREMBONG
Di kalangan pecinta Peresean di Lombok, nama Haji Rizal dikenal luas.
Ia berasal dari Dusun Kerembong, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah.
Namun di arena Peresean, ia lebih dikenal dengan julukan yang begitu ikonik: Arya Kamandanu.
Julukan ini menarik karena mengingatkan kita pada tokoh pendekar dalam drama radio legendaris Tutur Tinular yang sangat populer pada era 1980–1990-an.
Tetapi bagi masyarakat Lombok, Arya Kamandanu bukanlah tokoh fiksi.
Ia adalah sosok nyata.
Sepanjang hidupnya, Haji Rizal tercatat telah berlaga lebih dari seribu kali di arena Peresean.
Rekor itu bukan sekadar angka statistik. Ia adalah jejak keberanian, konsistensi, dan kecintaan yang mendalam terhadap tradisi.
Di kampung halamannya, Haji Rizal bukan hanya dikenal sebagai pepadu tangguh.
Ia juga menjadi figur yang disegani, seseorang yang menunjukkan bahwa seorang pendekar sejati tidak hanya kuat di arena, tetapi juga bijak dalam kehidupan.
Kisah seperti inilah yang membuat saya merasa: cerita ini tidak boleh hilang ditelan waktu.
DARI ARENA TRADISI KE GELOMBANG RADIO
Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan yang bagi saya sangat personal: audiodramania Peresean sebuah sandiwara radio yang diangkat dari kisah nyata para pepadu.
Saya membayangkan bagaimana kisah-kisah heroik para pepadu Peresean dapat dihidupkan kembali melalui medium audio.
Radio memiliki kekuatan yang unik. Ia tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membangun imajinasi.
Generasi yang tumbuh pada era 1980–1990-an tentu masih ingat bagaimana sandiwara radio seperti Tutur Tinular mampu membuat jutaan pendengar tenggelam dalam cerita hanya melalui suara.
Saya ingin menghadirkan kembali pengalaman itu, tetapi dengan cerita dari Lombok, dengan napas budaya Sasak yang kuat.
Melalui Radiodramania Peresean, kisah perjalanan Haji Rizal sebagai Arya Kamandanu akan diangkat dalam bentuk serial sandiwara radio.
Sebuah drama yang bukan hanya menghadirkan pertarungan, tetapi juga menampilkan perjalanan hidup, persahabatan, rivalitas, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Peresean.
RISET, PERJALANAN DAN CERITA YANG DITEMUKAN
Sebagai inisiator program ini, saya sadar bahwa mengangkat kisah nyata menjadi drama tidak bisa dilakukan secara serampangan.
Karena itu, prosesnya dimulai dengan riset yang cukup panjang.
Saya membentuk tim kecil yang melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita-cerita lama, dan melakukan berbagai wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui perjalanan hidup para pepadu.
Dalam proses ini, saya sangat beruntung mendapatkan dukungan dari banyak sahabat.
Salah satunya adalah Buyung Sutan Muhlis, seorang jurnalis senior NTB yang memiliki kepedulian besar terhadap pemajuan kebudayaan Lombok dan Sumbawa.
Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis sekaligus pengamat budaya, saya merasa beliau adalah sosok yang tepat untuk mengembangkan ide cerita sekaligus menulis naskah drama ini.
Saya pun dengan penuh keyakinan mendaulat beliau untuk terlibat dalam proyek ini.
Selain itu, ada pula Dedi Suhadi dan Yudhi Buster yang dengan penuh semangat menemani saya berkeliling Lombok untuk menemui sejumlah pepadu yang pernah menjadi lawan tanding Arya Kamandanu.
Perjalanan-perjalanan itu membuka begitu banyak cerita.
Ada kisah tentang pertarungan sengit yang berakhir dengan persahabatan.
Ada kisah tentang keberanian yang lahir dari kesederhanaan. Ada pula kisah tentang rasa hormat antarpepadu yang begitu dalam.
Cerita-cerita itulah yang menjadi ruh dari Radiodramania Peresean.
MENGHIDUPKAN KEMBALI ERA SANDIWARA RADIO
Dalam rencana produksinya, Radiodramania Peresean juga akan melibatkan sejumlah penyiar legendaris dan pemain sandiwara radio yang pernah berjaya pada masanya.
Bagi saya, ini bukan sekadar strategi artistik.
Ini adalah bentuk penghormatan terhadap generasi kreator yang dulu telah membangun tradisi sandiwara radio di Indonesia khususnya Lombok.
Dengan menghadirkan kembali para aktor suara berpengalaman, saya berharap drama radio ini memiliki kualitas artistik yang kuat sekaligus menghadirkan nostalgia bagi generasi yang pernah hidup bersama kejayaan radio.
Di sisi lain, generasi muda juga bisa merasakan kembali keajaiban bercerita melalui suara.
Saya juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP yang memberikan dukungan terhadap terwujudnya program ini.
Dukungan tersebut menjadi bukti bahwa negara memberi ruang bagi inisiatif kreatif masyarakat dalam merawat warisan budaya.
Bagi saya pribadi, dukungan ini bukan sekadar bantuan program.
Ia adalah kepercayaan bahwa cerita-cerita dari Lombok layak untuk diangkat dan dibagikan kepada publik yang lebih luas.
Pada akhirnya, Radiodramania Peresean bukan hanya tentang sandiwara radio.
Ia adalah ikhtiar untuk merawat ingatan budaya.
Saya percaya bahwa setiap tradisi memiliki cerita yang layak untuk diceritakan kembali.
Peresean adalah salah satunya.
Di dalamnya ada keberanian, kehormatan, persaudaraan, dan semangat sportivitas yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Jika kisah-kisah itu bisa hidup kembali melalui drama radio, maka generasi muda tidak hanya akan mengenal Peresean sebagai tontonan festival budaya.
Mereka akan memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, dari cerita yang mereka dengarkan itu akan lahir generasi baru yang kembali mencintai tradisi.
Karena budaya yang diceritakan dengan baik tidak akan pernah mati.
Ia akan terus hidup dari suara ke suara, dari cerita ke cerita.
Menghidupkan Napas Peresean Dalam Sandiwara Radio
Oleh: M. Sukri Aruman



















