Scroll untuk baca Berita
title="Example 325x300" width="325" height="300">
Example floating
Banner IDwebhost
banner 970x250
Berita Utama

Majelis Adat Sasak minta ini ? NTB Darurat Pernikahan Anak

63
×

Majelis Adat Sasak minta ini ? NTB Darurat Pernikahan Anak

Sebarkan artikel ini
Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) Lalu Sajim Sastrawan bersama Direktur institut perempuan untuk perubahan sosial (inspirasi) NTB, Nurjanah saat bincang Kamisan di Kantor Gubernur, Kamis 26 Juni 2025. Foto (Dedi Suhadi)
Banner IDwebhost

BERBAGI News – Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) Lalu Sajim Sastrawan menyatakan saat ini kasus pernikahan dini tidak hanya terjadi di Pulau Lombok tapi juga Pulau Sumbawa bahkan intensitas kasus pernikahan anak lebih tinggi di pulau Sumbawa.

“Melihat intensitas dan masifnya kasus pernikahan anak yang terjadi saat ini maka NTB dalam kondisi darurat pernikahan dini,” katanya usai bincang Kamisan di Kantor Gubernur, Kamis 26 Juni 2025.

17 - 30 Oktober 2025, PLN berikan Diskon Tambah Daya 50%
Download aplikasi PLN MOBILE

Untuk meminimalisir kasus pernikahan anak, jelas Lalu Sajim Sastrawan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh lapisan masyarakat termasuk pers dan pengusaha.

Baca Juga:  CSR Awards 2020 "Kampung PLN Banget" Mataram Raih Juara III Tingkat Nasional

“Pers dan pengusaha harus turut terlibat dalam penanganan kasus perkawinan anak,” katanya.

Baca Juga:  Cerita DiBalik Tradisi Dilah Maleman Lombok

Sementara Direktur institut perempuan untuk perubahan sosial (inspirasi) NTB, Nurjanah menyatakan hingga pertengahan 2025 terjadi 149 kasus pernikahan anak.

“Kasus pernikahan anak tertinggi terjadi di kabupaten atau kota Bima dengan 81 kasus, disusul Sumbawa 38 kasus, kemudian Dompu, kabupaten Sumbawa Barat dan Lombok,” katanya.

Baca Juga:  Sosialisasi Pajak Daerah dan Pembayaran Jasa Petugas Penyampaian SPT PBB-P2 Kota Mataram

Dengan banyaknya kasus pernikahan anak maka kata Nurjanah harus  menjadi lampu merah bagi pemerintah provinsi NTB.

“Ini harus menjadi perhatian pemerintah provinsi NTB,” katanya.

Menurut Nurjanah maraknya pernikahan anak selain dipicu kuatnya budaya patriarki juga tidak dibicarakannya persoalan  seksualitas secara terbuka sehingga mengakibatkan banyaknya terjadi kasus kehamilan yang tidak diinginkan. *

Example 300250