Lombok Barat, GONTB – Puskesmas Perampuan terus memperkuat upaya penurunan angka stunting di enam desa wilayah kerjanya. Kepala Puskesmas Perampuan, Ns. Akmal Rosamali, menegaskan berbagai langkah terintegrasi telah dijalankan untuk mendukung target Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat, yakni menurunkan prevalensi stunting hingga nol persen.
“Selain layanan cek kesehatan gratis di puskesmas, sekolah dan komunitas, kami fokus pada penanganan masalah gizi, khususnya stunting,” ujar Akmal kepada wartawan, Rabu 14 Januari 2026.
Puskesmas Perampuan rutin melakukan edukasi pola asuh gizi, pelatihan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI untuk balita di atas usia enam bulan, serta pendistribusian susu fortifikasi melalui program PKK dan SGM.
Langkah awal yang diutamakan adalah screening pertumbuhan anak usia di bawah dua tahun. Tim Puskesmas bekerja sama dengan dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan pihak rumah sakit rujukan di Mataram-Lombok Barat.
Dari hasil pemeriksaan, anak-anak yang terindikasi stunting maupun memiliki gangguan kesehatan lain seperti tuberkulosis, anemia, atau kelainan bawaan langsung mendapatkan intervensi gizi dan perawatan medis.
“Penanganan tidak hanya berhenti pada pemberian susu dan makanan pendamping, tetapi juga pendampingan pengobatan hingga kontrol lanjutan. Kami membentuk grup WhatsApp, melibatkan orang tua, kader, PKK, petugas puskesmas, bahkan dokter, untuk memantau perkembangan anak secara berkala,” jelas Akmal.
Berbagai data menunjukkan upaya ini membawa hasil positif. Prevalensi stunting di Lombok Barat pada awal program masih di angka sekitar 14,3 persen, kini berhasil ditekan menjadi 10,07 persen.
“Kami menargetkan angka stunting turun ke satu digit, bahkan mendekati nol persen,” imbuhnya.
Kedepan, Puskesmas Perampuan juga mendorong langkah preventif sejak remaja putri, antara lain pemeriksaan kesehatan reproduksi, deteksi anemia, hingga deteksi dini infeksi menular.
Pada ibu hamil, puskesmas menekankan pemenuhan kebutuhan gizi, pengurangan stres, penghindaran asap rokok, serta deteksi dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga, mengingat lebih dari 50 persen ibu hamil mengalami kecemasan yang dapat mempengaruhi asupan gizi.
“Kami butuh sinergi lintas sektor pemerintah daerah, lintas OPD, hingga masyarakat dan lembaga pendidikan agar penanganan dan pencegahan stunting bisa berjalan berkelanjutan,” tutup Akmal. ***




















