Lombok Barat, GONTB – Puskesmas Perampuan di Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, terus memperluas layanan kesehatan primer untuk menjawab beragam persoalan masyarakat.
Kepala Puskesmas Perampuan, Ns. Akmal Rosamali, S.Kep., M.Kes., mengatakan salah satu inovasi utama saat ini adalah Vision Center atau layanan polimata, yang menitikberatkan pada deteksi dan penanganan gangguan penglihatan.
“Selain pelayanan rawat jalan, kami menggandeng BPJS Kesehatan untuk menyelenggarakan pemeriksaan mata. Masyarakat kini dapat mendaftar secara langsung atau daring, baik untuk layanan offline maupun online. Bahkan kacamata hasil pemeriksaan bisa diantar ke rumah pasien,” terang Akmal Rosamali saat diwawancara, Selasa (6/1/2026).
Program Vision Center ini menurut Akmal menghadirkan kemudahan akses bagi semua kalangan. Dia menyoroti tingginya kasus gangguan refraksi mata akibat penggunaan gawai sejak usia dini.
“Bukan hanya lansia, kini anak SD, remaja, hingga dewasa banyak terdeteksi rabun jauh maupun rabun dekat,” ujarnya.
Sebelumnya, Puskesmas Perampuan juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB untuk menggelar skrining visus dan membagikan kacamata gratis kepada siswa yang membutuhkan.
Pengembangan Layanan Sesuai Permenkes
Akmal menambahkan bahwa seluruh inovasi layanan di Puskesmas Perampuan berpedoman pada Permenkes Nomor 19 Tahun 2019 tentang integrasi layanan kesehatan primer.
“Kami melayani bayi, anak sekolah, remaja, dewasa hingga lansia. Beberapa layanan bersifat program gratis, sedangkan sebagian lainnya berbayar sesuai ketentuan, termasuk layanan yang ditanggung BPJS,” jelasnya.
Fokus penanganan gizi juga mendapat perhatian serius. Data internal Puskesmas mencatat tren penurunan angka stunting dalam beberapa tahun terakhir.
Program pemberian susu PKMK—didukung Pemkab Lombok Barat—telah berjalan hampir empat bulan dan kini memasuki tahap kedua.
“Stunting adalah dampak jangka panjang dari persoalan gizi. Kami melihat peningkatan berat badan pada balita underweight dan peningkatan tinggi-panjang badan pada balita stunting, meski status gizinya masih stunting. Perbaikan ini turut menekan prevalensi stunting di wilayah kerja kami,” papar Akmal.
Pendekatan Multisektoral dan Tantangan
Meski demikian, Akmal menegaskan bahwa upaya menurunkan angka stunting memerlukan proses berkelanjutan dan sinergi berbagai pihak, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat.
“Intervensi teknis yang dilakukan tenaga kesehatan hanya sekitar 30 persen. Sisanya bergantung pada pola asuh keluarga, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kualitas lingkungan,” jelasnya.
Analisis skrining Puskesmas mengungkap bahwa stunting tidak semata-mata akibat kurang gizi. Penyakit infeksi—seperti tuberkulosis, ISPA, penyakit kulit—dan kondisi permukiman tanpa ventilasi memadai atau berdekatan dengan kandang ternak turut memengaruhi pertumbuhan anak.
Faktor perilaku merokok di lingkungan keluarga juga menjadi perhatian, khususnya di sekitar ibu hamil dan anak-anak.
“Edukasi untuk tidak merokok di dekat anak dan ibu hamil terus kami galakkan. Penanganan stunting membutuhkan intervensi spesifik gizi sekaligus intervensi sensitif seperti perbaikan sanitasi dan lingkungan secara bersamaan,” pungkas Akmal Rosamali.
Dengan komitmen bersama lintas sektor, Puskesmas Perampuan optimistis bahwa capaian penurunan angka stunting dapat terus ditingkatkan, selaras dengan upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer bagi seluruh warga Lombok Barat. ***




















